Blogger Widgets

Sabtu, 03 Januari 2015

KONSELING SEBAGAI SISTEM



KONSELING SEBAGAI SISTEM

 A.    PENGERTIAN SISTEM

Sistem berasal dari bahasa Latin (systēma) dan bahasa Yunani (sustēma) adalah suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasimateri atau energi. Istilah ini sering dipergunakan untuk menggambarkan suatu set entitas yang berinteraksi, di mana suatu model matematika seringkali bisa dibuat.

Sistem adalah himpunan bagian atau unsur yang saling berhubungan secara teratur untuk mencapai tujuan bersama.

Sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri atas komponen atau elemen yang saling berinteraksi, saling terkait, atau saling bergantung membentuk suatu keseluruhan yang komplek.

Menurut L. James Havery, Sistem adalah prosedur logis dan rasional untuk merancang suatu rangkaian komponen yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan maksud untuk berfungsi sebagai suatu kesatuan dalam usaha mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan.

Sistem merupakan kesatuan yang kompleks dan terorganisasi. Sistem merupakan kumpulan terpadu elemen-elemen yang berinteraksi, yang dirancang untuk menjalankan fungsi yang telah ditentukan dengan baik.

Sistem merupakan struktur atau organisasi suatu kesatuan yang secara jelas menunjukkan interrelasi bagian-bagian, dengan satu sama lain dan dengan kesatuan itu sendiri.

Suatu sistem terdiri dari bagian-bagian yang saling mempengaruhi dan bekerja sama untuk mencapai tujuan.

Sistem mengandung subsistem-subsistem yang saling berinteraksi. Subsistem ini sendiri dipandang juga sebagai sistem-sistem yang lebih rendah tingkatannya, yang juga memiliki subsistem-subsistemnya sendiri yang saling berinteraksi, dan demikian seterusnya.

Sehingga sistem adalah sekumpulan komponen yang saling berkaitan untuk mencapai suatu tujuan.

B. PENGERTIAN KONSELING


KONSELING SEBAGAI SISTEM

 

Sistem adalah suatu  hal yang aktif, bergerak,dan menuju kepada arah atau produk tertentu. Oleh karena itu konseling yang disusun berdasarkan suatu sistem, mengadakan penyesuaian atau peninjauan kembali kegiatan pemrosesannya, tetapi juga sistem itu meninjau kembali dan mengubah tolok ukurnya (baik berupa sasaran, target, tujuan maupun yang lainnya). Suatu sistem dikatakan baik apabila sanggup mempertahankan kondisikeseimbangan terhadap perubahan lingkungan, dengan kata lain elemen-elemen yang dianggap berpengaruh tidak boleh diabaikan dalam membangun sistem sehingga terbentuk sinergi atau nilai yang jauh lebih besar dibandingkan penjumlahan biasa.

            Sebagai sebuah system konseling memiliki komponen inti, yang terdiri dari input, proses, dan output. Ketiga komponen tersebut merupakan satu kesatuan utuh yang saling terkait, terikat, mempengaruhi, membutuhkan, dan menentukan.

            Input konseling adalah segala sesuatu yang dibutuhkan konseling untuk terjadinya pemrosesan guna mendapatkan output yang diharapkan. Input konseling yang antara lain manusia dengan masalahnya, uang, materi atau bahan-bahan, metode-metode dan mesin-mesin.

            Manusia yang dibutuhkan sebagai masukan bagi proses konseling yaitu manusia yang memiliki masalah, baik itu masalah perkembangannya maupun masalah lainnya yang tidak mampu diselesaikan sendiri. Selain klien input konseling adalah konselor, kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya.

Kedudukan uang dalam input konseling sangat penting untuk membiayai semua program yang telah ditetapkan. Bahan-bahan atau materials adalah bahan fisik yang diperlukan untuk menunjang terjadinyab proses konseling. Bahan-bahan tersebut berupa sarana dan prasarana, alat-alat atau media lainnya. Metode (methods) yaitu cara pendekatan yang digunakan oleh konselor pada kliennya. Sedangkan mesin-mesin adalah  seperangkat yang mendukung terjadinya proses konseling, contohnya computer, radio, televisi, atau alat lainnya yang menggunakan teknologi.

            Proses berlangsungnya konseling pada dasarnya adalah berlangsungnya proses penentuan jenis masalah dan penyelesainnya, yaitu terjadinya interaksi antara konselor dengan klien.

Konseling sebagai system seharusnya menghasilkan output yang memuaskan baik bagi klien maupun bagi konselor. Output dari aktivitas konseling adalah egala keputusan yang diambilklien dengan bantuan konselor yang berkaitan masalahnya, untuk mencapai perkembangan yang optimal.

Konseling dapat terlaksana dengan efektif dan efisien apabila semua unsur yang terlibat dalam proses konseling dipandang sebagai sistem. Di dalam sistem hubungan antara komponen satu dengan komponen lain dikaji secara khusus dan mendalam dalam kaitnnya dengan tujuan yang ingin dicapai oleh individu yang dilayani.

Proses konseling menyangkut proses perilaku individu di dalam sistem, sehingga yang menjadi target intervensi konseling bukanlah individu yang terlepas dariu sistem, melainkan individu di dalam sistem, sehingga kepedulian utamanya terletak pada interaksi individu dalam sistem.

Proses konseling pada dasarnya proses perubahan perilaku individu dalam sistem, dan kepedulian utamanya terletak pada interaksi individu dalam sistem. Individu dalam sistem mempunyai tujuan yang ingin dicapai melalui konseling. Tujuan yang ingin dicapai adalah perubahan perilaku pada diri individu, baik dalam bentuk pandangan, sikap, sifat maupun keterampilan yang lebih memungkinkan individu dapat menerima, mewujudkan diri, mengembangkan diri, mencegah dan mampu mengatasi permasalahan secara optimal sebagai wujud dari individu yang memiliki pribadi mandiri.

Jadi Konseling Sebagai Suatu Sistem adalah cara memandang unsur-unsur yang terdapat dalam proses Konseling sebagai suatu sistem dengan mengkaji secara seksama dan mendalam hubungan antara unsur yang satu dengan unsur yang lain dalam kaitannya dengan masalah klien sehingga konselor dengan mudah dapat menetapkan alternatif bantuan atau teknik Konseling yang sesuai, dalam upaya membantu klien mewujudkan bahwa dirinya sebagai individu yang memiliki pribadi yang mandiri.

UNSUR-UNSUR KONSELING SEBAGAI SISTEM

Dalam proses konseling terdapat beberapa komponen yang harus dipandang sebagai suatu sistem. Maksudnya konselor harus berpikir secara sistemik dalam memperhatikan hubungan komponen-komponen yang terkait dengan kebutuhan yang dibawa oleh siswa/individu dalam konseling (individual ataupun kelompok), baik yang terfokus pada pengembangan pribadi, pencegahan, dan pengatasan masalah. Dengan cara demikian memungkinkan konselor bekerja secara efektif dan efisien dalam membantu siswa melalui layanan konseling.
Kompoen-komponen yang terkadung dalam konseling sebagai suatu sistem harus dikaji secara khusus dan mendalam. Melalui pengkajian, konselor akan memperoleh pemahaman terhadap setiap komponen yang terkandung dalam konseling.

Masukan, merupakan komponen awal untuk pengoperasian sebuah sistem. Proses merupakan kegiatan yang dapat mengubah masukan menjadi keluaran. Keluaran sebagai hasil dari suatu operasi. Masukan, proses, dan keluaran merupakan unsur normal dalam semua sistem, dan merupakan istilah yang digunakan untuk menerangkan semua sistem.

a.       Masukan

Masukan (input) sistem adalah segala sesuatu yang masuk ke dalam sistem dan selanjutnya menjadi bahan yang diproses. Masukan dapat berupa hal-hal yang berwujud (tampak secara fisik) maupun yang tidak tampak. Contoh masukan yang berwujud adalah bahan mentah, sedangkan contoh yang tidak berwujud adalah informasi (misalnya permintaan jasa pelanggan).

 

b.      Proses

Proses merupakan bagian yang melakukan perubahan atau transformasi dari masukan menjadi keluaran yang berguna dan lbih bernilai, misalnya berupa informasi dan produk, tetapi juga bisa berupa hal-hal yang tidak berguna, misalnya saja sisa pembuangan atau limbah. Pada pabrik kimia, proses dapat berupa bahan mentah. Pada rumah sakit, proses dapat berupa aktivitas pembedahan pasien.

c.       Keluaran

Keluaran (output) merupakan hasil dari pemrosesan. Pada sistem informasi, keluaran bisa berupa suatu informasi, saran, cetakan laporan, dan sebagainya.

Komponen-komponen yang terkandung dalam konseling sebagai suatu sistem, harus baik dan terpadu, sebab komponen-komponen yang baik dan terpadu dapat menunjang lancarnmya pencapaian tujuan konseling secara optimal. Hubungan fungsional dan terpadu semua komponen dalam konseling harus dinamis agar fungsi dari semua unsur terarah pada pencapaian tujuan konseling, yaitu terwujudnya perkembangan pribadi yang optimal, terhindarnya dari masalah dan terpecahkannya masalah klien. Hubungan fungsional dan keterpaduan semua komponen dalam konseling memegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan konseling sebagai suatu sistem. Tanpa adanya hubungan fungsional secara terpadu antara semua komponen, maka suatu komponen yang baik kondisinya praktis tidak punya arti dalam pencapaian tujuan konseling.
Ditinjau dari segi pencapaian tujuan, pada prinsipnya keterpaduan semua komponen dalam suatu sistem konseling dilaksanakan untuk mencapai tujuan konseling secara optimal jika optimasi pencapaian tujuan tetap dipertahankan, meskipun ada komponen lain dalam sistem yang kurang menunjang.

Adapun unsur-unsur yang terdapat dalam proses konseling, antara lain yaitu :
1. Konselor

Seseorang dapat dikatakan sebagai seorang konselor apabila ia memiliki pendidikan yang cukup dan menguasai teori-teori tentang konseling, serta mempunyai keahlian dan keterampilan dalam melakukan proses konseling. Dalam proses konseling ini, konselor mempunyai peranan untuk dapat membantu klien dalam mengungkapkan masalahnya. Hal ini dilakukan dengan cara berinteraksi sehingga terjadi perubahan tingkah laku pada klien.

Konselor  merupakan komponen dasar untuk pengoperasian sebuah sistem, yaitu sistem konseling. Konselor dalam proses konseling harus menguasai dan mengembangkan kemampuan (keterampilan) dan sikap yang memadai untuk terselenggaranya proses kegiatan secara efektif. Konselor harus mampu mengembangkan hubungan anatara konselor dengan klien atau anggota kelompok, dan antar anggota kelompok(dalam konseling kelompok) yang didasarkan pada kepercayaan,pengertian,dan rasa menghargai. Hubungan ini harus ditetapkan/dibentuk tanpa memandang tingkah laku, keyakinan, sikap, suku bangsa, jenis kelamin, atau status sosial ekonomo klien (Stewart,1978:6).

Konselor harus memiliki kesadaran dan disiplin diri yang memungkinkan pengontrolan kebutuhan dan tingkah laku dirinya sendiri, sementara menjadi empati dan obyektif terhadap kebutuhan klien. Konselor juga memasukan pengetahuan tentang prinsip-prinsip psikologi tentang tingkah laku manusia, kondisi sosial ekonomi dan kode etik yang ditetapkan untuk pelaksanaan sistem konseling.

Keterampilan dan sikap yang harus dimiliki konselor meliputi:

-          Kehendak dan usaha untuk mengenal dan mempelajari diri klien,dinamika kelompok, fungsi-fungsi konselor dan saling hubungan antar individu dalam konseling;

-          Kesediaan menerima orang lain, yang terlibat dalam konseling tanpa pamrih;

-          Kehendak untuk dapat didekati dan membantu tumbuhnya saling hubungan antara konselor dengan klien atau antara anggota kelompok (dalam konseling kelompok);

-          Kesediaan menerima berbagai pandangan dan sikap yang berbeda, yang barangkali amat berlawanan terhadap pandangan konselor;

-          Pemusatan perhatian terhadap suasana, perasaan dan sikap klien dan konselor sendiri;

-          Penimbulan dan pemeliharaan saling hubungan;
 Pengarahan yang teguh demi tercapainya tujuan bersama yang telah ditetapkan;

-          Keyakinan akan kemanfaatan dinamika kelompok sebagai wahana untuk membantu anggota kelompok (dalam konseling kelompok);

-          Rasa humor, rasa bahagia, dan rasa puas, baik yang dialami oleh konselor sendiri maupun klien.


2. Klien

Dalam proses konseling, klien adalah penderita. Berperan sebagai penerima alternatif bantuan dari konselor agar bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Klien sebagai individu yang dilayani merupakan komponen dasar dalam sistem konseling, yang mengikat satu sama lain, tidak hanya membawa masalah, kebutuhan yang perlu dipecahkan dan dipenuhi, tetapi secara keseluruhan ia memiliki kualitas seperti : Kesehatan fisik, penampilan, sifat genetik, usia, suku, bangsa, adat istiadat, jenis kelamin, status sosial-ekonomi, struktur motivasi, latar belakang lingkungan, dan serangkaian nilai yang memberi warna dan sikap terhadap diri sendiri dan orang lain, sehingga setiap individu menjadi seorang yang unik.

Dengan demikian konselor (atau anggota lain dalam konseling kelompok) harus siap memberi respon terhadap keunikan-keunikan individu.
Siswa/individu merupakan komponen utama dalam proses konseling.
Kegiatan konseling dipengaruhi oleh peranan individu yang dilayani. Dalam konseling kelompok, kegiatan/kehidupan kelompok sebagian besar didasarkan atas peranan anggota kelompok. Kehidupan kelompok tidak akan terwujud tanpa keikutsertaan secar aktif setiap anggota kelompok, dan bahkan lebih dari itu, dalam batas-batas tertentu suatu kelompok dapat melakukan kegiatan tanpa kehadiran peranan pemimpin kelompok sama sekali.

            3. Teknik Konseling

Adalah cara atau tindakan yang dilakukan oleh seorang ahli kepada individu yang mengalami masalah yang bermuara pada teratasinya masalah. Teknik ini berperan sebagai alat bantu konselor dalam memberikan masukan yang terbaik untuk kliennya.

4. Suasana Lingkungan

Susana lingkungan dalam proses konseling juga memiliki peranan penting, karena dapat dijadikan acuan bagi seorang konselor dalam meberikan alternatif bantuan kepada klien, yang sesuai dengan situasi dan kondisi daerah setempat.
Unsur-unsur dalam proses konseling ini harus terpadu dan dipandang sebagai suatu sistem. Perubahan status dari suatu unsur menjadi sistem atau sebaliknya tidak lain adalah pada cara memandang ruang lingkup suatu permasalahan. Jika sebuah unsur dari suatu sistem dipisahkan dengan unsur-unsur yang lain untuk dikaji secara tersendiri, maksudnya ialah agar unsur tersebut dapat dipahami secara mendalam. Demikian pula hubungan antara bagian yang satu dengan yang lainnya dapat ditemukan dan dipahami lebih seksama. Sehingga dapat ditemukan metode-metode pemecahan masalah secara lebih baik.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

AT, Andi Mappiare. 2004. Pengantar Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT RajaGraffindo Persada

0 komentar:

Posting Komentar

tulis komentar disini :)