Sistem berasal dari bahasa Latin (systēma) dan bahasa Yunani (sustēma) adalah
suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan
aliran informasi, materi atau energi. Istilah ini sering dipergunakan untuk
menggambarkan suatu set entitas yang berinteraksi, di mana suatu model matematika seringkali bisa dibuat.
Sistem adalah himpunan bagian
atau unsur yang saling berhubungan secara teratur untuk mencapai tujuan
bersama.
Sistem adalah suatu kesatuan yang
terdiri atas komponen atau elemen yang saling berinteraksi, saling terkait,
atau saling bergantung membentuk suatu keseluruhan yang komplek.
Menurut L. James
Havery, Sistem adalah prosedur logis dan rasional untuk merancang suatu
rangkaian komponen yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan maksud
untuk berfungsi sebagai suatu kesatuan dalam usaha mencapai suatu tujuan yang
telah ditentukan.
Sistem merupakan kesatuan yang
kompleks dan terorganisasi. Sistem merupakan kumpulan terpadu elemen-elemen
yang berinteraksi, yang dirancang untuk menjalankan fungsi yang telah
ditentukan dengan baik.
Sistem merupakan struktur atau
organisasi suatu kesatuan yang secara jelas menunjukkan interrelasi
bagian-bagian, dengan satu sama lain dan dengan kesatuan itu sendiri.
Suatu sistem terdiri dari
bagian-bagian yang saling mempengaruhi dan bekerja sama untuk mencapai tujuan.
Sistem mengandung
subsistem-subsistem yang saling berinteraksi. Subsistem ini sendiri dipandang
juga sebagai sistem-sistem yang lebih rendah tingkatannya, yang juga memiliki
subsistem-subsistemnya sendiri yang saling berinteraksi, dan demikian
seterusnya.
Sehingga sistem adalah sekumpulan
komponen yang saling berkaitan untuk mencapai suatu tujuan.
B. PENGERTIAN KONSELING
KONSELING SEBAGAI SISTEM
Sistem adalah suatu hal yang aktif, bergerak,dan menuju kepada
arah atau produk tertentu. Oleh karena itu konseling yang disusun berdasarkan
suatu sistem, mengadakan penyesuaian atau peninjauan kembali kegiatan
pemrosesannya, tetapi juga sistem itu meninjau kembali dan mengubah tolok
ukurnya (baik berupa sasaran, target, tujuan maupun yang lainnya). Suatu sistem
dikatakan baik apabila sanggup mempertahankan kondisikeseimbangan terhadap
perubahan lingkungan, dengan kata lain elemen-elemen yang dianggap berpengaruh
tidak boleh diabaikan dalam membangun sistem sehingga terbentuk sinergi atau
nilai yang jauh lebih besar dibandingkan penjumlahan biasa.
Sebagai sebuah system konseling memiliki komponen inti, yang terdiri dari
input, proses, dan output. Ketiga komponen tersebut merupakan satu kesatuan
utuh yang saling terkait, terikat, mempengaruhi, membutuhkan, dan menentukan.
Input konseling adalah segala sesuatu yang dibutuhkan konseling untuk
terjadinya pemrosesan guna mendapatkan output yang diharapkan. Input konseling
yang antara lain manusia dengan masalahnya, uang, materi atau bahan-bahan,
metode-metode dan mesin-mesin.
Manusia yang dibutuhkan sebagai masukan bagi proses konseling yaitu manusia
yang memiliki masalah, baik itu masalah perkembangannya maupun masalah lainnya
yang tidak mampu diselesaikan sendiri. Selain klien input konseling adalah
konselor, kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya.
Kedudukan uang dalam input
konseling sangat penting untuk membiayai semua program yang telah ditetapkan.
Bahan-bahan atau materials adalah bahan fisik yang diperlukan untuk menunjang
terjadinyab proses konseling. Bahan-bahan tersebut berupa sarana dan prasarana,
alat-alat atau media lainnya. Metode (methods) yaitu cara pendekatan yang digunakan
oleh konselor pada kliennya. Sedangkan mesin-mesin adalah seperangkat
yang mendukung terjadinya proses konseling, contohnya computer, radio,
televisi, atau alat lainnya yang menggunakan teknologi.
Proses berlangsungnya konseling pada dasarnya adalah berlangsungnya proses
penentuan jenis masalah dan penyelesainnya, yaitu terjadinya interaksi antara
konselor dengan klien.
Konseling sebagai system
seharusnya menghasilkan output yang memuaskan baik bagi klien maupun bagi
konselor. Output dari aktivitas konseling adalah egala keputusan yang
diambilklien dengan bantuan konselor yang berkaitan masalahnya, untuk mencapai
perkembangan yang optimal.
Konseling dapat terlaksana dengan
efektif dan efisien apabila semua unsur yang terlibat dalam proses konseling
dipandang sebagai sistem. Di dalam sistem hubungan antara komponen satu
dengan komponen lain dikaji secara khusus dan mendalam dalam kaitnnya dengan
tujuan yang ingin dicapai oleh individu yang dilayani.
Proses konseling menyangkut
proses perilaku individu di dalam sistem, sehingga yang menjadi target
intervensi konseling bukanlah individu yang terlepas dariu sistem, melainkan
individu di dalam sistem, sehingga kepedulian utamanya terletak pada interaksi
individu dalam sistem.
Proses konseling pada dasarnya
proses perubahan perilaku individu dalam sistem, dan kepedulian utamanya
terletak pada interaksi individu dalam sistem. Individu dalam sistem mempunyai
tujuan yang ingin dicapai melalui konseling. Tujuan yang ingin dicapai
adalah perubahan perilaku pada diri individu, baik dalam bentuk pandangan,
sikap, sifat maupun keterampilan yang lebih memungkinkan individu dapat
menerima, mewujudkan diri, mengembangkan diri, mencegah dan mampu mengatasi
permasalahan secara optimal sebagai wujud dari individu yang memiliki pribadi
mandiri.
Jadi Konseling Sebagai Suatu
Sistem adalah cara memandang unsur-unsur yang terdapat dalam proses Konseling
sebagai suatu sistem dengan mengkaji secara seksama dan mendalam hubungan
antara unsur yang satu dengan unsur yang lain dalam kaitannya dengan masalah
klien sehingga konselor dengan mudah dapat menetapkan alternatif bantuan atau
teknik Konseling yang sesuai, dalam upaya membantu klien mewujudkan bahwa
dirinya sebagai individu yang memiliki pribadi yang mandiri.
UNSUR-UNSUR KONSELING SEBAGAI
SISTEM
Dalam proses konseling terdapat
beberapa komponen yang harus dipandang sebagai suatu sistem. Maksudnya konselor
harus berpikir secara sistemik dalam memperhatikan hubungan komponen-komponen
yang terkait dengan kebutuhan yang dibawa oleh siswa/individu dalam konseling
(individual ataupun kelompok), baik yang terfokus pada pengembangan pribadi,
pencegahan, dan pengatasan masalah. Dengan cara demikian memungkinkan konselor
bekerja secara efektif dan efisien dalam membantu siswa melalui layanan
konseling.
Kompoen-komponen yang terkadung dalam konseling sebagai suatu sistem harus
dikaji secara khusus dan mendalam. Melalui pengkajian, konselor akan memperoleh
pemahaman terhadap setiap komponen yang terkandung dalam konseling.
Masukan, merupakan komponen awal
untuk pengoperasian sebuah sistem. Proses merupakan kegiatan yang dapat
mengubah masukan menjadi keluaran. Keluaran sebagai hasil dari suatu operasi.
Masukan, proses, dan keluaran merupakan unsur normal dalam semua sistem, dan
merupakan istilah yang digunakan untuk menerangkan semua sistem.
a. Masukan
Masukan (input) sistem adalah
segala sesuatu yang masuk ke dalam sistem dan selanjutnya menjadi bahan yang
diproses. Masukan dapat berupa hal-hal yang berwujud (tampak secara fisik)
maupun yang tidak tampak. Contoh masukan yang berwujud adalah bahan mentah,
sedangkan contoh yang tidak berwujud adalah informasi (misalnya permintaan jasa
pelanggan).
b. Proses
Proses merupakan bagian yang
melakukan perubahan atau transformasi dari masukan menjadi keluaran yang
berguna dan lbih bernilai, misalnya berupa informasi dan produk, tetapi juga
bisa berupa hal-hal yang tidak berguna, misalnya saja sisa pembuangan atau
limbah. Pada pabrik kimia, proses dapat berupa bahan mentah. Pada rumah sakit,
proses dapat berupa aktivitas pembedahan pasien.
c. Keluaran
Keluaran (output) merupakan hasil
dari pemrosesan. Pada sistem informasi, keluaran bisa berupa suatu informasi,
saran, cetakan laporan, dan sebagainya.
Komponen-komponen yang terkandung
dalam konseling sebagai suatu sistem, harus baik dan terpadu, sebab
komponen-komponen yang baik dan terpadu dapat menunjang lancarnmya pencapaian
tujuan konseling secara optimal. Hubungan fungsional dan terpadu semua komponen
dalam konseling harus dinamis agar fungsi dari semua unsur terarah pada
pencapaian tujuan konseling, yaitu terwujudnya perkembangan pribadi yang
optimal, terhindarnya dari masalah dan terpecahkannya masalah klien. Hubungan
fungsional dan keterpaduan semua komponen dalam konseling memegang peranan
penting dalam menentukan keberhasilan konseling sebagai suatu sistem. Tanpa
adanya hubungan fungsional secara terpadu antara semua komponen, maka suatu
komponen yang baik kondisinya praktis tidak punya arti dalam pencapaian tujuan
konseling.
Ditinjau dari segi pencapaian tujuan, pada prinsipnya keterpaduan semua
komponen dalam suatu sistem konseling dilaksanakan untuk mencapai tujuan
konseling secara optimal jika optimasi pencapaian tujuan tetap dipertahankan,
meskipun ada komponen lain dalam sistem yang kurang menunjang.
Adapun unsur-unsur yang terdapat
dalam proses konseling, antara lain yaitu :
1. Konselor
Seseorang dapat dikatakan sebagai
seorang konselor apabila ia memiliki pendidikan yang cukup dan menguasai
teori-teori tentang konseling, serta mempunyai keahlian dan keterampilan dalam
melakukan proses konseling. Dalam proses konseling ini, konselor mempunyai
peranan untuk dapat membantu klien dalam mengungkapkan masalahnya. Hal ini
dilakukan dengan cara berinteraksi sehingga terjadi perubahan tingkah laku pada
klien.
Konselor merupakan komponen
dasar untuk pengoperasian sebuah sistem, yaitu sistem konseling. Konselor dalam
proses konseling harus menguasai dan mengembangkan kemampuan (keterampilan) dan
sikap yang memadai untuk terselenggaranya proses kegiatan secara efektif.
Konselor harus mampu mengembangkan hubungan anatara konselor dengan klien atau
anggota kelompok, dan antar anggota kelompok(dalam konseling kelompok) yang
didasarkan pada kepercayaan,pengertian,dan rasa menghargai. Hubungan ini harus
ditetapkan/dibentuk tanpa memandang tingkah laku, keyakinan, sikap, suku
bangsa, jenis kelamin, atau status sosial ekonomo klien (Stewart,1978:6).
Konselor harus memiliki kesadaran
dan disiplin diri yang memungkinkan pengontrolan kebutuhan dan tingkah laku
dirinya sendiri, sementara menjadi empati dan obyektif terhadap kebutuhan
klien. Konselor juga memasukan pengetahuan tentang prinsip-prinsip psikologi
tentang tingkah laku manusia, kondisi sosial ekonomi dan kode etik yang
ditetapkan untuk pelaksanaan sistem konseling.
Keterampilan dan sikap yang harus
dimiliki konselor meliputi:
- Kehendak
dan usaha untuk mengenal dan mempelajari diri klien,dinamika kelompok,
fungsi-fungsi konselor dan saling hubungan antar individu dalam konseling;
- Kesediaan
menerima orang lain, yang terlibat dalam konseling tanpa pamrih;
- Kehendak
untuk dapat didekati dan membantu tumbuhnya saling hubungan antara konselor
dengan klien atau antara anggota kelompok (dalam konseling kelompok);
- Kesediaan
menerima berbagai pandangan dan sikap yang berbeda, yang barangkali amat
berlawanan terhadap pandangan konselor;
- Pemusatan
perhatian terhadap suasana, perasaan dan sikap klien dan konselor sendiri;
- Penimbulan
dan pemeliharaan saling hubungan;
Pengarahan yang teguh demi tercapainya tujuan bersama yang telah
ditetapkan;
- Keyakinan
akan kemanfaatan dinamika kelompok sebagai wahana untuk membantu anggota
kelompok (dalam konseling kelompok);
- Rasa
humor, rasa bahagia, dan rasa puas, baik yang dialami oleh konselor sendiri
maupun klien.
2. Klien
Dalam proses konseling, klien
adalah penderita. Berperan sebagai penerima alternatif bantuan dari konselor
agar bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Klien sebagai individu yang
dilayani merupakan komponen dasar dalam sistem konseling, yang mengikat satu
sama lain, tidak hanya membawa masalah, kebutuhan yang perlu dipecahkan dan
dipenuhi, tetapi secara keseluruhan ia memiliki kualitas seperti : Kesehatan
fisik, penampilan, sifat genetik, usia, suku, bangsa, adat istiadat, jenis
kelamin, status sosial-ekonomi, struktur motivasi, latar belakang lingkungan,
dan serangkaian nilai yang memberi warna dan sikap terhadap diri sendiri dan
orang lain, sehingga setiap individu menjadi seorang yang unik.
Dengan demikian konselor (atau
anggota lain dalam konseling kelompok) harus siap memberi respon terhadap
keunikan-keunikan individu.
Siswa/individu merupakan komponen utama dalam proses konseling.
Kegiatan konseling dipengaruhi oleh peranan individu yang dilayani. Dalam
konseling kelompok, kegiatan/kehidupan kelompok sebagian besar didasarkan atas
peranan anggota kelompok. Kehidupan kelompok tidak akan terwujud tanpa
keikutsertaan secar aktif setiap anggota kelompok, dan bahkan lebih dari itu,
dalam batas-batas tertentu suatu kelompok dapat melakukan kegiatan tanpa
kehadiran peranan pemimpin kelompok sama sekali.
3. Teknik Konseling
Adalah cara atau tindakan yang
dilakukan oleh seorang ahli kepada individu yang mengalami masalah yang
bermuara pada teratasinya masalah. Teknik ini berperan sebagai alat bantu
konselor dalam memberikan masukan yang terbaik untuk kliennya.
4. Suasana Lingkungan
Susana lingkungan dalam proses
konseling juga memiliki peranan penting, karena dapat dijadikan acuan bagi
seorang konselor dalam meberikan alternatif bantuan kepada klien, yang sesuai
dengan situasi dan kondisi daerah setempat.
Unsur-unsur dalam proses konseling ini harus terpadu dan dipandang sebagai
suatu sistem. Perubahan status dari suatu unsur menjadi sistem atau sebaliknya
tidak lain adalah pada cara memandang ruang lingkup suatu permasalahan. Jika
sebuah unsur dari suatu sistem dipisahkan dengan unsur-unsur yang lain untuk
dikaji secara tersendiri, maksudnya ialah agar unsur tersebut dapat dipahami
secara mendalam. Demikian pula hubungan antara bagian yang satu dengan yang
lainnya dapat ditemukan dan dipahami lebih seksama. Sehingga dapat ditemukan
metode-metode pemecahan masalah secara lebih baik.
0 komentar:
Posting Komentar
tulis komentar disini :)