Tingkahlaku dalam Perspektif Psikoanalisa
Psikoanalisis
adalah suatu sistem dalam psikologi yang berasal dari penemuan-penemuan Freud
dan menjadi dasar dalam teori Psikologi yang berhubungan dengan gangguan
kepribadian dan perilaku neurotik. Psikoanalisis memandang jiwa manusia sebagai
ekspresi dari adanya dorongan yang menimbulkan konflik.
Psikoanalisis sebagai teori dari
psikoterapi berasal dari uraian Freud bahwa gejala neurotik pada seseorang
timbul karena tertahannya ketegangan emosi yang ada, ketegangan yang ada
kaitannya dengan ingatan yang ditekan, ingatan yang mengenai hal-hal yang
traumatik dari pengalaman seksual pada masa kecil. Semula dipergunakan teknik
hypnosis, namun setelah diketahui bahwa tidak terhadap semua orang mudah dan
bisa dilakukan hypnosis, Freund menggunakan asosiasi bebas. Dengan asosiasi
bebas pasien bebas untuk mengemukakan segala hal yang ingin dilakukan termasuk
yang tadinya ditekan di bawah sadarnya tanpa dihambat ataupun di kritik.
Pendekatan psikoanalisis dalam
konseling meresepsentasikan tradisi utama dalam konseling dan psikoterapi
kontemporer. Konseling Psikoanalisis memberikan perhatian terhadap kemampuan
konselur untuk menggunakan apa yang terjadi, dalam hubungan antara konseli dan
konselur yang bersifat segera dan terbuka dalam rangka mengeksplorasi tipe
perasaan dan dilema hubungan yang melibatkan kesulitan bagi konseli dalam
kehidupan sehari-hari (McLeod, 2006, p. 90).
Pendekatan Psikoanalisis merupakan
pendekatan yang banyak mempengaruhi timbulnya pendekatan-pendekatan lain dalam
konseling.
Teori Psikoanalisis juga merupakan
teori kepribadian yang paling komprehensif yang mengemukakan tentang tiga pokok
pembahasan yaitu struktur kepribadian, dinamika kepribadian, dan perkembangan
kepribadian (Alwisol, 2004, p. 15).
Psikoanalisis sering juga disebut
dengan Psikologi Dalam, karena pendekatan ini berpendapat bahwa segala tingkah
laku manusia bersumber pada dorongan yang terletak jauh di dalam alam
ketidaksadaran. Selain itu, Psikoanalisis banyak digunakan secara bergantian
dengan istilah Psikodinamik, karena menekankan pada dinamika atau gerak dorong
mendorong antara alam ketidaksadaran da alam kesadaran, dimana alam
ketidaksadaran mendorong untuk ke dalam alam kesadaran (Alwisol, 2004, p. 17).
Pendekatan psikoanalisis
dikembangkan oleh Sigmund Freud (1856-1939). Freud menjelaskan istilah
Psikoanalisis dalam arti yang berbeda-beda. Salah satu penjelasan yang terkenal
terdapat dalam sebuah artikel yang ia tulis pada tahun 1923. Pada artikel
tersebut ia membedakan tiga arti Psikoanalisis, yaitu :
• Istilah Psikoanalisis dipakai untuk menunjukkan
suatu metode penelitian terhadap proses-proses psikis (misalnya mimpi) yang
sebelumnya hampir tidak terjangkau oleh penelitian para ilmiah.
• Istilah ini juga menunjukkan suatu teknik untuk
mengobati gangguan-gangguan psikis yang dialami oleh pasien neurosis. Teknik
pengobatan ini bertumpu pada metode penelitian tadi.
• Istilah yang sama juga dipakai pula dalam arti luas
lagi, untuk menunjukkan seluruh pengetahuan psikologis yang diperoleh melalui
metode dan teknik tersebut diatas. Dalam arti terakhir kata Psikoanalisis
mengacu pada suatu ilmu yang dimana Freud merupakan penemuan yang betul-betul
baru.
Aliran Freudian memandang manusia
sebagai makhluk deterministik. Menurut Freud, tingkah laku manusia ditentukan
oleh kekuatan irasional, motivasi bawah sadar (unconsiousness motivation),
dorongan (drive) biologis dan insting, serta kejadian psikoseksual selama enam
tahun pertama kehidupan (Thompson, et. al., 2004, p. 77;Corey, 1986, p. 12).
Insting merupakan pusat dari pendekatan yang dikembangkan Freud. Walaupun Freud
pada dasarnya menggunakan istilah libido yang mengacu pada energi seksual, ia
mengembangkan istilah ini menjadi insting seluruh energi kehidupan.
Insting-insting ini bertujuan
sebagai pertahanan hidup dari individu dan manusia, berorientasi pada
pertumbuhan, perkembangan dan kreativitas. Libido dipahami sebagai sumber
motivasi yang lebih luas dari sekedar energi seksual. Freud memasukkan tingkah
laku yang bertujuan mendapatkan kesenangan dan menghindari kesakitan merupakan
libido (Corey, 1986, p. 12). Ferud juga mengemukakan tentang konsep insting
mati (death instincts), yang berhubungan dengan dorongan agresif (aggresive
drive).
Ia mengatakan bahwa manusia
memanifestasikan insting mati (death instincts) ini melalui tingkah laku seperi
keinginan bawah sadar untuk mati atau menyakiti diri sendiri dan orang lain.
Freud percaya bahwa dorongan seksual dan agresif adalah kekuatan yang
menentukan tingkah laku manusia (Corey, 1986, p. 12). Insting hidup (Life
instincts), untuk mempertahankan hidup, berorientasi pada pertumbuhan,
perkembangan, dan kreativitas. Semua tindakan bertujuan memperoleh kesenangan
dan menghindari rasa sakit. Walaupun terdapat konflik antara life instincts (Eros)
dan death instincts (Thanatos), individu bukan korban dari agresi dan
self-destruction karena kedua insting tersebut. Pada buku Civilization and the
Discontents (1930;1962), Freud mengindikasikan bahwa tantangan utama bagi
manusia adalah bagaimana mengelola dorongan agresifnya (Corey, 1986, p. 12).
Selanjutnya, Freud melihat individu
pada dasrnya adalah setan (evil) dan korban (victim) dari insting yang harus
menyeimbangkan dengan kekuatan sosial untuk memberikan struktur dimana individu
dapat berfungsi. Untuk mencapai keseimbangan, individu harus memiliki pemahaman
mendalam tentang kekuatan yang memotivasi mereka bertingkah laku (Thompson, et.
al., 2004, p. 77).
Ada beberapa poin penting yang menjadi inti pembahasan
dari teori ini sehingga mampu melahirkan konsep yang “unik” tentang manusia. Poin penting itu adalah ;
- Kesadaran (consciousness)
- Ketidaksadaran (unconsciousness)
- Struktur kepribadian
- Kecemasan (anxiety)
- Mekanisme pertahanan diri (defense mechanism)
- Tahap perkembangan psikoseksual (psychosexual stage).
A. Kesadaran (consciousness)
dan ketidaksadaran (unconsciousness)
Sebenarnya, Freud bukanlah orang pertama yang
menemukan ide tentang alam tidak sadar (unconsciousness), tapi dialah
yang membuat ide tersebut menjadi terkenal, dan harus diakui, bahwa pemahaman
tentang kesadaran dan ketidaksadaran manusia merupakan salah satu sumbangan
terbesar dari pemikiran Freud. Menurutnya, kunci untuk memahami perilaku dan
problema kepribadian bermula dari hal tersebut. Ketidakasadaran itu tidak dapat
dikaji langsung, karena perilaku yang muncul itu merupakan konsekuensi
logisnya.
Menurutnya bahwa ketidaksadaran mencakup segala
sesuatu yang sangat sulit dibawa ke alam sadar, termasuk segala sesuatu yang
memang asalnya alam bawah sadar, seperti nafsu dan insting serta segala sesuatu
yang termasuk keduanya dan alam tak sadar adalah sumber dari motivasi dan
dorongan yang ada dalam diri manusia
Menurut Gerald Corey, bukti klinis untuk membenarkan
alam ketidaksadaran manusia dapat dilihat dari hal-hal berikut, seperti :
- Mimpi; hal ini merupakan pantulan dari kebutuhan, keinginan dan konflik yang terjadi dalam diri.
- Salah ucap sesuatu; misalnya nama yang sudah dikenal sebelumnya.
- Sugesti pasca hipnotik.
- Materi yang berasal dari teknik asosiasi bebas.
- Materi yang berasal dari teknik proyeksi, serta isi simbolik dari simptom psikotik.
Sementara itu, alam sadar adalah segala seuatu yang
disadari pada saat tertentu, penginderaan langsung, ingatan, pemikiran,
fantasi, dan perasaan yang dimiliki setiap orang. Kesadarann itu merupakan
suatu bagian terkecil atau tipis dari keseluruhan pikiran manusia. Hal ini
dapat diibaratkan seperti gunung es yang ada di bawah permukaan laut, dimana
bongkahan es itu lebih besar di dalam ketimbang yang terlihat di permukaan.
Demikianlah juga halnya dengan kepribadian manusia, semua pengalaman dan memori
yang tertekan akan dihimpun dalam alam ketidaksadaran.
A.
Struktur
kepribadian
Dalam teori psikoanalitik, struktur kepribadian
manusia itu terdiri dari id, ego, dan superego.
Ketiga struktur kepribadian manusia tersebut adalah :
- Id merupakan sistem kepribadian yang orisinil, dimana ketika manusia itu dilahirkan ia hanya memiliki Id saja, karena ia merupakan sumber utama dari energi psikis dan tempat timbulnya instink. Id sebenarnya adalah tidak lain dari representasi psikis kebutuhan-kebutuhan biologis. Id tidak memiliki organisasi, buta, dan banyak tuntutan dengan selalu memaksakan kehendaknya. Ada istilah Libido, yaitu energy total yang mengendalikan dorongan Id atau energy psikis dalam bentuk yang paling mentah.
- Ego berperan sebagai “eksekutif” yang memerintah, mengatur dan mengendalikan kepribadian, sehingga prosesnya persis seperti “polisi lalulintas” yang selalu mengontrol jalannya id, super- ego dan dunia luar. Ia bertindak sebagai penengah antara instink dengan dunia di sekelilingnya. Ego ini muncul disebabkan oleh kebutuhan-kebutuhan dari suatu organisme, seperti manusia lapar butuh makan. Jadi lapar adalah kerja Id dan yang memutuskan untuk mencari dan mendapatkan serta melaksanakan itu adalah kerja ego.
- Superego adalah yang memegang keadilan atau sebagai filter dari kedua sistem kepribadian, sehingga tahu benar-salah, baik-buruk, boleh-tidak dan sebagainya. Di sini superego bertindak sebagai sesuatu yang ideal, yang sesuai dengan norma-norma moral masyarakat. Superego memiliki dua sisi; nurani (consciences) yang merupakan internalisasi dari hukuman dan peringatan, dan ego ideal yang berasal dari puji-pujian dan contoh-contoh positif.
Meurut Freud, ego akan selalu berdiri di antara Id dan
superego. Ketiganya selalu berada dalam konflik yang dinamis. Maka, ketika
terjadi konflik di antara kekuatan-kekuatan tersebut untuk menguasai ego, maka
sangat bisa dipahami kalau ego merasa terjepit dan terancam, serta merasa
seolah-olah akan lenyap digilas kekuatan-kekuatan tersebut. Perasaan terancam
dan terjepit ini disebut kecemasan (anxiety).
Sedangkan menurut Freud, kecemasan itu ada tiga: kecemasan
realita, neurotik dan moral.
- Kecemasan realita/realistis adalah rasa takut akan bahaya yang datang dari dunia luar dan derajat kecemasan semacam itu sangat tergantung kepada ancaman nyata. Seperti, merasa takut ketika bertemu dengan ular dan hewan berbisa lainnya.
- Kecemasan moral adalah rasa takut terhadap hati nuraninya sendiri. Orang yang hati nuraninya cukup berkembang cenderung merasa bersalah apabila berbuat sesuatu yang bertentangan dengan norma moral. Kecemasan ini terjadi ketika ada ancaman dari dunia social superego yang telah diinternalisasikan ke dalam diri seseorang.
- Kecemasan neurotik adalah rasa takut kalau instink akan keluar jalur dan menyebabkan sesorang berbuat sesuatu yang dapat mebuatnya terhukum. Kecemasan ini yang paling menarik perhatian Freud, dan biasanya disebut dengan kecemasan biasa.
C.
Mekanisme
pertahanan diri (defense mechanism)
Ego berusaha sekuat mungkin untuk menjaga stabilitas
hubungan dengan realitas, id, dan superego. Namun ketika kecemasan begitu
menguasai, ego harus mempertahankan diri. Maka, secara tidak sadar ego akan
bertahan dengan cara memblokir, menghilangkan, seluruh dorongan atau dengan
menciutkan dorongan-dorongan tersebut menjadi wujud yang lebih bisa diterima
dan tidak terlalu mengancam. Cara seperti ini kemudian dikenal dengan mekanisme
mempertahankan diri atau defense mechanism.
- Represi. Ini merupakan sarana pertahanan yang bisa mengusir pikiran serta perasaan yang menyakitkan dan mengancam keluar dari kesadaran. Anna Freud menyebutnya dengan “melupakan yang memotivasi”.
- Denial. Ini adalah cara mengacaukan apa yang dipikirkan, dirasakan, atau dilihat seseorang dalam situasi traumatik. Jika dalam kondisi tertentu peristiwa ini terlalu banyak untuk ditanggulangi, seseorang hanya perlu menolak mengalaminya. Hal seperti ini bisa membahayakan, karena tidak ada yang bisa selamanya lari dari kenyataan.
- Reaction formation. Ini adalah menukar suatu impuls atau perasaan yang menimbulkan kecemasan dengan melawannya dalam kesadaran. Anna Freud menyebut ini dengan “percaya pada hal yang sebaliknya”.
- Replacement, merupakan suatu cara untuk menangani kecemasan dengan menyalurkan perasaan atau impuls dengan jalan menggeser dari objek yang mengancam ke “sasaran yang lebih aman”.
- Rationalization, ini cara beberapa orang menciptakan alasan yang “masuk akal” untuk menjelaskan disingkirnya ego yang babak belur.
- Fixation
- Regression, yaitu berbalik kembali kepada prilaku yang dulu pernah mereka alami.
- Projection, atau penggantian ke arah luar. Mekanisme ini merupakan kebalikan dari melawan diri, meliputi kecenderungan untuk melihat hasrat yang tidak bisa diterima oleh orang lain.
- Introjections, yaitu mekanisme untuk mengundang serta “menelaah” sistem nilai atau standar orang lain.
- Sublimation, ini suatu cara untuk mengalihkan energi seksual kesaluran lain, yang secara sosial umumnya bisa diterima, bahkan ada yang dikagumi.
Selain itu, masih ada banyak lagi defense mechanism
lainnya, yaitu ;
11. Identifikasi
14. Isolasi
12. Konpensasi
15. Melawan diri sendiri
13. Penghapusan
D.
Tahap
perkembangan psikoseksual (psychosexual stage)
Dalam teori Freud setiap manusia
harus melewati serangkaian tahap perkembangan dalam proses menjadi dewasa.
Tahap-tahap ini sangat penting bagi pembentukan sifat-sifat kepribadian yang
bersifat menetap. Artinya, ketika perkembangan yang seharusnya terselesaikan
tidak diperlakukan sebagaimana mestinya, maka hal itu akan berdampak terhadap
prilaku di masa yang akan datang. Bagi Freud, masalah manusia adalah persoalan
masa lalu. Untuk mengatasi problema yang dihadapai manusia, maka seseorang
harus mampu masuk kedalam dan menyingkap tabir-tabir kehidupan yang menjadi
pengalaman dalam hidupnya.
Menurut Freud, kepribadian seseorang terbentuk pada
usia sekitar 5-6 tahun, yaitu :
|
|
Tahap Oral
(lahir-1thn)
|
Aktifitas fokus pada mulut
|
|
2.
|
Tahap Anal
(1 – 3
thn)
|
Aktifitas
fokus pada anus
|
|
3.
|
Tahap
Phalic
(3-6 thn)
|
Aktifitas
fokus pada alat kelamin
|
|
4.
|
Tahap
Latency
(6-12 thn)
|
Masa yang
paling baik untuk belajar
|
|
5.
|
Tahap
Genital
(diatas
12thn)
|
Lebih ke
masa dewasa
|
- Tahap Oral : Kenikmatan diperoleh dari mulut, bibir, rongga mulut. Kalau tidak dipenuhi akan mengakibatkan kecemasan dan frustrasi. Kegiatan bayi berpusat di sekitar mulut (menghisap, menggigit, mengunyah), dan merupakan pembentukan attachment dengan ibu.
- Tahap Anal : 1-3 tahun, Kenikmatan terpusat di daerah anal (proses menahan dan melepas feses). Toilet training dimulai pada tahap ini. Kalau prosesnya terlalu keras / disiplin akan menyebabkan kecemasan sehingga anak bisa konstipasi, anak jadi berantakan, jorok, dan tidak bertanggungjawab.
- Tahap Phalic : 3-6 tahun, Kenikmatan terpusat di daerah genital. Zona genital anak kecil sering dirangsang dengan mencuci, menggesek, memegang, dsb. Ada istilah yang disebut dengan Oedipus complex : anak jatuh cinta pada orangtua berlawanan jenis yang terjadi karena ada kecemasan dan ketakutan hukuman dengan orangtua sejenis (laki-laki), sementara sebaliknya dialami anak perempuan dengan mengalami Electra complex.
- Tahap Laten : 6-12 tahun adalah fase relatif tenang, tidak ada masalah seksualitas yang menonjol dan anak lebih fokus pada sekolah, interaksi sosial dan dengan teman-temannya.
- Tahap Genital : 12 tahun keatas. Dorongan seksual dibangkitkan kembali dan mulai berkembang ke arah seksual orang dewasa.
Menurut teori Psikoanalisis, konsep
dasar manusia berputar sekitar psychic determinism dan unconcius mental
proceseses. Psychic determinism berarti bahwa fungsi mental atau kehidupan
mental merupakan manifestasi logis yang secara terus menerus dari hubungan
kausatif antara keduanya. Menurut Freud, tidak satupun peristiwa terjadi secara
random dan kebetulan, semuanya memiliki sebab dan akibat dari peristiwa yang
terjadi. Selanjutnya, unconsious mental process adalah apa yang ada dalam
pikiran dan tubuh yang tidak kita ketahui, dibawah level kesadaran, sehingga
sering kali manusia tidak mengerti perasaan dan tingkah lakunya sendiri
(Thompson, et. al., p. 78)
Ferud percaya bahwa konflik yang
tidak terpecahkan, represi, dan free floating anxiety (kecemasan) pada umunya
berjalan bersamaan. Kesakitan dan konflik tidak dapat diselsesaikan pada level
kesadaran karena ditekan, dikubur dan dilupakan ke level unconciusness
(ketidaksadaran), sehingga untuk menyelesaikan masalahnya hanya dapat dilakukan
dengan membuka konflik awal. Hal ini dapat dilakukan dengan memamnggil kembali
ingatan dan mengintegrasikan ingatan yang telah ditekan denga fungsi kesadaran
individu yang memberikan simtom untuk sembuh dari free-floating anxiety
(Thompson, et. al., 2004, p. 78).
Topografi kepribadian ``
Teori topografi merupakan teori
psikoanalisis yang menjelaskan tentang kepribadian manusia yang terdiri dari
sub-sub sistem. Bagi freud kepribadian itu berhubungan dengan alam kesadaran
(awareness). Alam kesadaran terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu alam sadar
(conscious/Cs), alam prasadar (preconsius/Pcs) dan alam bawah sadar
(unconsciuos/Usc).
Alam sadar adalah bagian kesadaran yang memiliki
fungsi mengingat, menyadari dan merasakan sesuatu secara sadar.
Alam prasadar adalah bagian
kesadaran yang menyimpan ide, ingatan dan perasaan yang berfungsi mengantarkan
ide, ingatan, dan perasaan tersebut ke alam sadar jika kita berusaha
mengingatkanya kembali.
Alam bawah sadar adalah bagian dari
dunia kesadaran yang terbesar dan sebagai bagian terpenting dari struktur
psikis, karena segenap pikiran dan perasaan yang dialami sepanjang hidupnya
yang tidak dapat disadari lagi akan tersimpan di dalamnya.
Struktur atau Organisasi Kepribadiaan
Menurut pandangan psikoanalisis,
struktur atau organisasi kepribadian individu terbagi dari tiga sistem yaitu
id, ego, dan superego. Pada orang yang dianggap sehat mental, ketiga sistem
merupakan kesatuan organisasi yang harmonis.
Sehingga memungkinkan individu
berhubungan dengan lingkungan secara efisien dan memuaskan. Bila ketiga sistem
bertentangan satu sama lain, individu mengalami kesulitan penyesuaian diri.
Tingkah laku manusia hampir selalu merupakan produk interaksi ketiga sistem
tersebut (Corey, 1986, p. 12).
Id
Id merupakan sistem utama kepribadian. Ketika lahir
manusia seluruhnya terdiri dari id. Id berisi segala sesuatu yang secara
psikologis diturunkan, telah ada sejak lahir termasuk insting mempertahankan
hidup (life instinct) merupakan dorongan seksual atau libido dan dorongan untuk
mati (death instinct) merupakan dorongan agresi (marah, menyerang orang lain,
berkelahi) (Corey, 1986, p. 13). Id merupakan tempat rahim berkembang.
Id adalah sumber utama dan reservoir
atau cadangan dari energi-energi psikis dan merupakan penggerak ego dan
superego yang berhubungan erat dengan proses-proses jasmani, dari mana energi
berasal (Thompson, et. al., 2004, p. 80). Id disebut juga kenyataan psikis yang
sebenarnya, karena id merupakan pencerminan penghayatan subyektif dan tidak
mengenal kenyataan obyektif karena berada di level ketidaksadaran
(uncounscious), irasional, dan tidak terorganisir. Id memiliki prinsip
kenikmatan (pleasure priniciple). Hal ini berarti bahwa id akan berusaha
menyalurkan ketegangan dengan segera dan mengembalikan keseimbangan, agar
kembali pada keadaan tenang dan menyenangakan (Alwisol, 2004, p. 16-17;1986, p.
13)
Untuk menghilangkan rasa sakit dan
mendapatkan kenikmatan, id mempunyai dua proses, yaitu :
• Tindakan refleks
Tindakan refleks adalah reaksi
otomatis dan bawaan, seperti bersin dan berkedip. Id tidak dapat membedakan
antara realitas dan bukan realitas.
• Proses primer
Proses primer adalah menghentikan
ketegangan dengan membentuk kahayalan tentang objek yang dapat menghilangkan
ketegangan. Pengalaman dimana objek yang digunakan hadir dalam bentuk gambaran
ingatan pemenuhannya hasrat (wish fulfullment). Proses primer tidak dapat
menguragi ketegangan maka dibutuhkan proses sekunder ego (Alwisol, 2004, p.
16-17;Thompson, et. al., 2004, p. 80).
Ego
Ego merupakan bagian yang memiliki
kontak dengan realitas dunia luar. Ia bertindak sebagai eksekutif yang
mengatur, mengontrol, meregulasi kepribadian. Ego dapat dianalogikan sebagai
polisi lalu lintas (traffic cop) untuk Id, Superego dan dunia.
Tugas utama ego adalah memediasi
antara insting dengan lingkungan sekitar. Ego mengontrol kesadaran dan
bertindak sebagai sensor (Corey, 1986, p. 13). Ego berfugsi untuk mewujudkan
kebutuhan pada dunia nyata, dan mampu membedakan apa yang ada dalam diri dan
luar diri yang disebut juga dengan proses sekunder. Ego memiliki tiga fungsi,
yaitu :
1. Prinsip kenyataan (reality principles)
Prinsip ini bertujuan untuk mencegah terjadinya
ketegangan sampai ditemukan objek yang sesuai.
2. Pengujian terhadap kenyataan (reality testing)
Berarti bahwa ego mengontrol semua fungsi kognitif dan
intelektual, menyusun rencana pemenuhan kebutuhan, dan menguji rencana
tersebut. Eksekutif kepribadian berguna untuk mengontrol pintu-pintu ke arah
tindakan, memilih lingkungan, memutuskan insting mana yang akan dipuaskan,
bagaimana cara yang digunakan untuk memuaskannya (Thompson, et. al., 2004, p.
80-81) kemudian mengintegrasikan tuntunan id, superegodan realitas.
3. Mekanisme Pertahanan diri ( Defense Mechanism)
Yaitu mengendalikan Id dan menghalau
implus dan perasaan cemas yang tidak menyenangkan melalui strategi tingkah laku
yang dipilih oleh individu yang temasuk dalam mekanisme pertahanan diri
(Alwisol, 2004, p. 18). Strategi-strategi yang dilakukan individu dalam rangka
mempertahankan diri akan dijelaskan lebih lanjut pada bagian selanjutnya.
Superego
Superego terdiri dari dua bagian yaitu :
1. Suara hati (conscience) yang merupakan sub-sistem
Superego, berisi hal-hal yang menurut orang tua tidak baik dilakukan dan bila
dilakukan mendapat hukuman.
2. Ego Ideal, yaitu wadah yang menampung hal-hal yang
diharapkan untuk dilakukan dan bila dikerjakan mendapat hadiah. Dalam proses
ini terdapat introyeksi yaitu proses masuknya suara hati (conscience) dan ego
ideal yang berasal dari pendidikan orang tua ke dalam diri individu sehinggaa
membentuk kontrol diri (Alwisol, 2004, p. 18;Thompson, et. al., 2004, p. 81)
Superego berfungsi merintangi impuls-impuls id,
terutama impuls seksual dan agresif, mendorong Ego untuk menggantikan tujuan
realistis dengan tujuan moralistis, mengajar kesempurnaan, dengan demikian
seolah-olah superego selalu menentang Id dan Ego, serta selalu berusaha untuk
membentuk bayangannya sendiri ( Alwisol, 2004, p. 18).
Menurut Freud, terdapat tiga kecemasan yang dapat
dialami individu, yaitu:
a. Kecemasan realitas
Kecemasan yang dirasakan karena
adanya ancaman yang nyata atau ancaman yang diperkirakan akan dihadapi di
lingkungan. tingkat kecemasaan yang akan dirasakan adalah setimpal dengan
ancaman yang ada atau diperkirakan. Contohnya merasa cemas untuk meninggalkan
mobil yang baru dibeli di tepi jalan yang gelap dan sepi.
b. Kecemasan moral
Kecemasan yang dihasilkan dari hati
nurani. Individu yang memiliki kata hati yang mantap dan mudah merasa bersalah
jika melanggar norma dan nilai masyarakat. Misalnya merasa cemas akan kegagalan
saat akan menghadapi ujian.
c. Kecemasan neurotik
Kecemasan yang muncul dari rasa
bimbang karena tidak dapat mengontrol nuraninya sehingga menyebabkan ia
melakukan sesuatu di luar kontrolnya. Keragu-raguan seperti ini seringkali
tidak dapat dicari sumber penyebabnya. kecemasan neurotik ini bersifat tidak
sadar (unconscious) (Loekmono, 2003, p. 7)
Dinamika
Kepribadian
Manusia memiliki kebutuhan yang
mendorong pada sesuatu tindakan atau menghambat tindakan tersebut. Dalam
pemenuhan kebutuhan tersebut terdapat dinamika yang berbebentuk interaksi
antara kekuatan-kekuatan psikis yang ada pada diri manusia, yaitu instink dan
pertahanan (prochaska, 1984).
Pada prinsipnya manusia memiliki instink untuk
mempertahankan dirinya, instink menjadi sumber energi psikis dalam mengarahkan
tindakan memenuhi keinginan dan kebutuhanya.
Dalam proses interaksi itulah muncul
kecemasan pada individu, yaitu perasaan kekhawatiran karena keinginan dan
tuntutan internal tidak dapat terpenuhi dengan sebaiknya. Freud mengemukakan
ada tiga bentuk kecemasahn pada individu, yaitu kecemasan realitas, kecemasan
neurotik, dan kecemasan moral.
Kecemasan realitas (reality anxiety)
merupakan kecemasan individu akibat dari ketakutan menghadapi realitas
sekitarnya. Kecemasan neurotik (neurotic anxiety) merupakan kecemasan karena
khawatir tidak mampu mengatasi atau menekan keinginan-keinginan primitifnya.
Sedangkan kecemasan moral (moral anxiety) merupakan kecemasan akibat dari rasa
bersalah dan ketakutan dihukum oleh nilai-nilai yang ada pada nuraninya.
Insting merupakan represensi psikologis yang dibawa
sejak lahir yang mengacu pada keinginan (wish) yang merupakan bagian dari
kebutuhan (need). contohnya lapar adalah kebutuhan (need) yang mengarah pada
keinginan (wish) akan makan. Keinginan (wish) ini menjadi motif tingkah laku.
Beberapa istilah yang digunakan dalam membahas dinamika kepribadian yaitu:
1. Libido adalah enegi yang memperoleh insting
kehidupan bekerja.
2. Cathexis adalah mengarahkan energi libidinal
manusia kepada objek, orang atau ideyang memuaskan kebutuhan.
3. Anticathexis adalah kekuatan yang digunakan oleh
ego untuk menghalangi impuls dari Id. Reality principle dan superego
mengarahkan tingkah laku Ego dan bertindak sebagai lawan dari pleasure
principle dari Id (Thompson, et, al, 2004. p. 81)
Perkembangan Kepribadian
jTeori genetik, berarti penjelasan tentang
asal dan perkembangan fenomena psikis. Secara genetis perkembangan kepribadian
berkembang melalui beberapa tahap, yaitu tahap oral, anal, falik, laten, dan
genital. Secara singkat tahapan perkembangan ini adalah sebagai berikut.
a) Fase oral terjadi sejak lahir hingga akhir tahun
pertama. Pada fase ini anak berkembang berdasarkan pengalaman kenikmatan eronik
pada daerah mulut.
b) Fase anal sebagai fase kedua dalam perkembangan
manusia. Fase ini terjadi mulai usia dua sampai akhir tahun ketiga.
Perkembangan anak pada fase ini berpusat pada kenikmatan pada daerah anus.
c) Fase failik berkembang mulai usia empat hingga lima
tahun. Pusat kenikmatan berpusat pada alat kelamin, yaitu penis pada anak
laki-laki dan klitoris pada anak perempuan.
d) Fase genital terjadi pada masa pubertas yang
ditandai oleh perilaku non narsistik. Mereka mulai tertarik lawan jenis,
bersosialisasi dan beraktivitas kelompok, perkawinan dan membangun keluarga,
menjalin hubungan kerja.
Psikoanalisis memiliki pendekatan yang unik dalam
melihat perkembangan kepribadian manusia. Freud mengemukakan perkembangan
psikoseksual yang merupakan dasar pemahaman terhadap permasalahan yang dialami
oleh konseli.
Mekanisme Pertahanan Ego (Ego- Defense Mechanisms)
Mekanisme Pertahanan ego membantu
individu mengatasi kecemasan dan mencegah terancammya ego. Pertahanan ego (
Ego-defense) merupakan tingkah laku normal karena ia memiliki nilai adaptif
bila tidak menjadi gaya hidup dalam menghadapi realitas. Mekanisme pertahanan
ego ( ego defence mechanism) memiliki dua karakteristik, yaitu : 1. menyangkal
realitas atau, 2 mengganti realitas (distort-reality).
1. Represi (repression) dan supresi (suppression)
Represi adalah proses ego memakai kekuatan
anticathexes menekan segala sesuatu (ide, insting, ingatan, pikiran) yang dapat
menimbulkan kecemasan keluar dari kesadaran (Alwisol, 2004, p. 30). Represi
mendorong memori, konflik, ide dan persepsi yang berbahaya dan mengancam ego
dari alam kesadaran kea lam ketidaksadaran dan menempatkan penutup untuk
mencegah hal-hal yang telah masuk ke alam ketidaksadaran muncul kembali. Dalam
represi individu secara tidak sadar menghalangi pikiran yang menyakitkan dari
memor. Sedangkan supresi (suppression) adalah usaha sadar untuk melakukan hal
yang sama dengan represi (Thompson, et. al, 2004, p. 83).
Represi memiliki dinamika dengan pemindahan
(displacement) seperti:
-Represi dan penempatan yang salah (displacement)
-Represi dan segala atau simton hysteria
-Represi dan gangguan psiko-fisiologis (psychophysiological
disorder)
-Represi dan fobia
-Represi dan nomadisme
2. Pembentukan reaksi (Reaction formation)
Adalah tindakan defensif dengan cara mengganti impuls
atau perasaan yang menimbulkan kecemasan dengan impuls atau perasaan yang
berlawanan atau kebalikannya dalam kesadaran.
3. Proyeksi (Projection) adalah melakukan atribusi
pada karakteristik orang lain di luar diri (Thampson, et, al., 2004, p. 83).
Proyeksi disebut juga mekanisme mengubah kecemasan neurotic atau moral menjadi
kecemasan realisti, dengan cara melemparkan impuls-impuls internal yang
mengancam dipindahkan ke objek di luar, sehingga seolah-olah ancaman itu
terproyeksi dari objek eksternal kepada diri orang itu sendiri.
4. Rasionalisasi (rationalisation) merupakan cara
untuk memberi alasan-alasan yang masuk akal sebagai usaha untuk mempertahankan
Egonya sehingga seolah-olah dapat dibenarkan.
5. Penempatan yang keliru (displacement) adalah
mengarahkan energi dari objek utama ke objek pengganti ketika insting
terhalangi (Thompson, et. al., 2004, p. 83) Cara ini dilakukan untuk menghadapi
kecemasan dengan memindahkan pada Obyek”yang lebih aman”.
6. Fixasi dan regresi
Fixasi adalah terhentinya perkembangan moral pada
tahap perkembangan tertentu karena perkembangan lanjutannya sangat sukar sehingga
menimbulkan frustasi dan kecemasan yang lebih kuat.
7. Penyangkalan (denial) adalah menolak kenyataan,
menolak stimulus atau persepssi realistik yang tidak menyenangkan dengan
menghilangkan atau mengganti persepsi itu dengan fantasi atau halusinasi.
8. Introyeksi (introjection) adalah suatu bentuk
pertahanan diri yang dilakukan dengan mengambil alih nilai-nilai dan standar
orang lain baik positif maupun negative.
9. Identifikasi merupakan cara mereduksi
ketergantungan dengan meniru (melakukan imitasi) atau mengidentifikasikan diri
dengan orang yang dianggap berhasil memuaskan hasratnya disbanding dirinya.
DAFTAR PUSTAKA
Bastaman, H.
D. Integrasi psikologi dengan islam.
Bastaman, H.
D. (2007). Logoterapi, psikologi untuk menemukan makna hidup dan meraih hidup bermakna.
Jakarta; PT RajaGrafindo Persada
George
Boeree. (2006). Personality theories, melacak kepribadian anda bersama psikolog
dunia. Diterjemahkan oleh Inyiak Ridwan Mudzir. Jakarta; Prismasophie
Mischel,
Shoda, Smith. (2003). Introduction to personality, toward an integration.
Indah.2010.Pandangan
Psikoanalisis Terhadap Manusia.http://11001indah.blogspot.com/2012/07/pandangan-psikoanalisis-tentang-manusia.html.
diambil pada tanggal 11/12/2013
Khuldy.2008.http://khuldy.wordpress.com/psikoanalisis/.diambil
pada tanggal 11/12/2013






0 komentar:
Posting Komentar
tulis komentar disini :)